Jumat, 18 Desember 2015

Dani, Sang penghuni Lembah

Seorang pria bertubuh tegap dan kekar berdiri di kejauhan. Ia berdiri dengan gagah tanpa sehelai kain pun di tubuhnya. Pria ini hanya menggunakan sebuah benda berbentuk kerucut untuk menutupi kemaluannya. Sorot mata yang begitu tajam, seolah tertuju pada sesuatu di hadapannya. Wajah yang dilumurinya dengan lumpur hitam terlihat sangat seram dan terkesan bengis. Apalagi ditambah dua buah potongan taring babi menyumbul dari lubang hidungnya. Pria ini adalah seorang prajurit dari Suku Dani, Suku besar yang mendiami wilayah Lembah Baliem, pegunungan tengah Propinsi Papua.

Suku Dani adalah suku asli Papua yang cukup dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia. Keberadaan suku ini sudah banyak diketahui, bahkan diteliti oleh berbagai pihak dari dalam dan luar Indonesia. Masyarakat suku Dani dikenal sebagai suku berperangai keras dan sangat menggemari peperangan. Namun pada kenyataannya, Suku Dani adalah suku yang sangat ramah, memiliki banyak kemampuan dalam bidang seni, bahkan mereka sangat senang bernyanyi. Jadi, dibalik penampilannya yang keras dan menyeramkan, masyarakat Dani ternyata menyimpan banyak kelembutan.

Keberadaan Suku Dani awalnya diketahui melalui berbagai penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari negara-negara barat sekitar tahun 1900 hingga 1940. Namun pada tahun 1938, ekspedisi pertama yang bersentuhan langsung dengan Suku Dani adalah ekspedisi yang dipimpin oleh Richard Archbold, seorang pakar ilmu hewan serta filantropi asal Amerika Serikat. Archbold lah yang mengawali penelitian mendalam tentang suku Dani, kemudian para peneliti lain pun silih berganti mempelajari keberadaan suku ini hingga kini.

Suku Dani sudah tinggal di kawasan lembah Baliem sejak ribuan tahun lalu. Mereka umumnya hidup bercocok tanam ubi dan berburu hewan liar untuk mencari makan. Gaya hidup ini diketahui oleh para peneliti masa lalu melalui beberapa penemuan berupa kapak batu dan ladang-ladang pertanian di sekitar wilayah lembah Baliem. Seiring berkembangnya jaman, peternakan pun kini menjadi pilihan aktifitas Suku Dani. Mereka suka beternak babi, bahkan hewan ini pun dianggap sangat berharga, hingga harga seekor babi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Dalam hal sistem kekerabatan, Suku Dani sebenarnya tidak terlalu rumit, hanya saja seiring perkembangan jaman, sistem ini mengalami banyak perubahan. Pada dasarnya, suku Dani tidak mengenal sistem keluarga inti dimana satu rumah hanya berisi ayah, ibu, dan anak saja. Suku Dani adalah masyarakat komunal yang hidup dalam satu komunitas. Oleh karena itu, sistem kekerabatannya bersifat kelompok, dimana mereka membagi keluarga menjadi kelompok-kelompok yang tinggal dalam satu wilayah rumah yang bernama Silimo. Jadi, satu Silimo bisa berisi 3 hingga 4 keluarga kecil yang tinggal bersama. Kumpulan beberapa Silimo ini akan menjadi sebuah kampung, kemudian kumpulan beberapa kampung akan menjadi sebuah klan. Akhirnya, klan-klan inilah yang saling terkait menjadi satu kesatuan suku Dani dan mereka tinggal berpencar di seluruh wilayah Lembah Baliem hingga ke Puncak Jayawijaya.

Banyaknya jaringan hubungan keluarga dalam Suku Dani membuat perselisihan pun tidak dapat terhindarkan. Perang antar klan, kampung, atau keluarga sangat sering terjadi. Apalagi bila kita mengingat lagi bahwa Suku Dani adalah suku yang sangat gemar berperang. Biasanya perselisihan ini disebabkan hal-hal perebutan tanah, perempuan, dan pencurian hewan ternak yang berupa babi. Tidak jarang korban nyawa pun melayang. Ketika masalah tidak dapat diselesaikan baik-baik, panah, tombak, dan parang dapat menancap kapan pun ke tubuh musuh. Namun, di masa modern ini mereka sudah mengenal sistem ganti rugi uang. Kini, perang sudah jarang terjadi dan penyelesaian masalah pun dialihkan menjadi ganti rugi uang ke pihak yang dirugikan.

Kehidupan Suku Dani tidak banyak mengalami modernisasi. Banyak tradisi kuno yang masih mereka pertahankan hingga saat ini. Pakaian, rumah adat, gaya hidup, bahkan bahasa asli pun masih mereka pergunakan walau hal-hal modern telah mereka kenal. Suku Dani hingga kini masih memakai koteka (penutup kemaluan pria yang terbuat dari umbi sejenis labu panjang) dan para wanita pun lebih suka bertelanjang dada dalam kesehariannya. Mereka masih tinggal di honai (rumah khas Suku Dani yang beratapkan jerami, berdinding kayu dan berbentuk jamur) dan bahasa asli Dani masih menjadi bahasa utama mereka, sekalipun mereka juga dapat berbahasa Indonesia.

Suku Dani sangat menarik untuk dipelajari. Banyak kearifan lokal yang akan kita dapat dari kehidupan mereka. Memang hidup mereka masih jauh dari kata modern, namun dalam beberapa hal, (misalnya cara mereka menghargai alam) Suku Dani jauh lebih bijak dari kita yang sering mengaku berbudaya modern. Akhir kata, Suku Dani adalah satu bukti nyata begitu kayanya budaya bangsa Indonesia. [@phosphone/IndonesiaKaya]


Agats, Kota papan

Alkisah, hampir seratus tahun lalu, seorang Pastor berkebangsaan Belanda bernama Jan Smith melangsungkan misi pekabaran Injil di wilayah pedalaman suku Asmat. Kala itu segalanya masih terbatas dan suku Asmat masih sangat primitif. Pastor Jan Smith menghadapi tantangan berat di dalam misinya, namun ia tetap bertahan di dalam keteguhan hatinya melayani Tuhan. Hingga suatu ketika, sang Pastor terbunuh oleh sebab yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Namun, sebelum meninggal Jan Smith pernah membuat sebuah pernyataan yang sering juga diartikan sebagai kutukan oleh penduduk setempat. Sebuah wilayah pesisir selatan Papua yang bernama Agats ini akan basah dan menjadi wilayah rawa untuk selamanya.

Hingga kini, penduduk Agats masih percaya pada mitos kutuk tersebut. Mereka menganggap ucapan yang dilontarkan oleh sang Pastor adalah penyebab kota Agats akan selalu menjadi kota yang berdiri di atas Rawa. Bahkan, ucapan Pastor yang patungnya didirikan di pelabuhan kecil Agats ini sudah menjadi cerita yang tersebar luas dari mulut ke mulut dan dianggap sebagai mitos terjadinya tanah berlumpur di Agats.
  
Kota Agats adalah ibukota dari sebuah wilayah pemekaran baru Kabupaten Asmat yang merupakan bagian dari propinsi Papua. Kota ini berada di pesisir selatan pulau Papua berdekatan dengan wilayah Timika yang berada di Kabupaten Mimika. Karena posisinya yang dekat dengan Timika, maka akan lebih mudah mencapai Agats dari kota Timika dengan menggunakan kapal laut atau pesawat perintis. Agats yang berpenduduk sekitar 76.000 jiwa ini merupakan kota penting bagi distrik-distrik di sekitarnya. Kota ini memegang peranan utama di dalam menjalankan roda perekonomian dan pemerintahan di Kabupaten baru Asmat ini.

Ada keunikan tersendiri yang dimiliki oleh Agats. Kondisi tanah berlumpur dan rawa membuat kota ini harus berdiri dengan sarana jalan yang berupa papan, sekilas jalan ini menyerupai dermaga. Seluruh jalan di kota Agats memang menyerupai jembatan yang dibuat dari kayu besi. Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi, jembatan-jembatan ini kemudian mulai disempurnakan dalam bentuk beton yang lebih kuat lagi. Hingga saat ini, pengembangan ibukota Kabupaten Asmat ini dilakukan di atas jalanan yang unik ini. Semua bangunan di kota dengan luas hampir 30.000 kilometer persegi ini pun menyesuaikan dengan bentuk rumah-rumah panggung. Bahkan, alat transportasi utama di dalam kota jembatan ini adalah motor, itupun motor yang menggunakan tenaga listrik.

Memang, kondisi Agats yang masih serba terbatas ini membuat pemerintah daerah dan seluruh penduduk menyesuaikan dengan keadaan. Jalan jembatan kayu yang terbentang luas di seluruh wilayah Agats tidak akan mampu menahan beban motor mesin yang cukup berat, apalagi mobil sudah dipastikan tidak akan mungkin menjadi alat transportasi. Kini, selain motor listrik, para penduduk Agats yang sebagian besar merupakan pendatang dari wilayah luar Asmat ini mengandalkan transportasi laut berupa perahu motor atau sekedar berjalan kaki bila masih berada di dalam kota.

Keterbatasan lain yang dimiliki Agats adalah kurangnya pasokan air bersih. Masyarakat Agats hingga kini bertahan dengan air hujan yang ditampung di tabung-tabung air. Kondisi tanah rawa memang membuat tanah ini sulit menyediakan air bersih. Maka tidak heran bila mandi menggunakan air tampungan ini terasa lebih licin dan sulit untuk membilas sabun yang digunakan. Namun demikian, kreatifitas masyarakat membuat mereka mampu terus bertahan dalam kondisi ini.

Walaupun memiliki banyak keterbatasan, namun sarana-prasarana dan infrastruktur kota Agats sudah cukup memadai. Pelabuhan, kantor pemerintahan, rumah sakit, pasar, kantor polisi, pos tentara, sekolah, bahkan Museum sudah terdapat di kota unik ini. Penduduk pun dengan leluasa melakukan berbagai aktifitas dan sedikit demi sedikit mengembangkan usaha-usaha untuk menunjang kehidupan mereka. Toko-toko kebutuhan dan rumah makan banyak sekali buka di sepanjang kota Agats, umumnya dimiliki oleh para pendatang yang mencoba peruntungan di kota rawa ini.

Uniknya kota Agats sejalan dengan budaya dan daya tarik wisata yang dimilikinya. Museum dapat menjadi titik pertama yang dapat dikunjungi sebelum mempelajari kehidupan Asmat lebih lanjut. Berbagai informasi mengenai suku Asmat dan seputar kehidupan mereka dapat diketahui di Museum ini. Para wisatawan dalam dan luar Indonesia pun sudah sangat sering mengunjungi museum yang cukup terawat ini. Tidak ada biaya yang dikenakan untuk memasuki Museum, hanya kesadaran para wisatawan saja untuk menyisihkan sedikit biaya bagi tambahan dana perawatan dan operasional Museum ini.

Selain itu, tidak jauh dari pusat kota Agats, terdapat sebuah desa tradisional bernama Syuru. Di desa ini berbagai kebudayaan khas Asmat pun dapat kita lihat secara langsung. Mulai rumah bujang “Jew” hingga ukiran-ukiran kebanggaan Asmat dapat kita saksikan prosesnya di desa ini. Desa Syuru dapat menjadi titik awal untuk mempelajari berbagai kebudayaan Asmat sebelum masuk langsung ke wilayah pedalaman lain seperti Sawaerma atau Asuwetsy. Kota Agats seakan menjadi mukadimah sebelum memulai petualangan lebih jauh lagi untuk mengenal keberadaan suku Asmat di bumi Papua.

Keberadaan kota Agats adalah sebuah bukti kegigihan perjuangan para penduduknya. Dalam berbagai keterbatasannya, kota ini terus berdiri dan justru mengembangkan diri ke arah yang semakin baik. Kota ini menjadi penunjang utama dan tempat bergantung bagi suku Asmat di bumi Papua. Kota Agats juga merupakan tonggak pertumbuhan wisata Asmat yang tentu saja mendatangkan devisa bagi Indonesia. Inilah wajah Agats yang begitu unik dan sangat menarik untuk ditelusuri lebih jauh. Sebuah kota di atas papan yang selalu tampil menawan. [@phosphone/IndonesiaKaya]





Perahu Lesung Suku Asmat

Suku Asmat adalah suku yang hidup di daerah rawa-rawa dan kehidupan mereka sangat dekat dengan air. Dalam menjalani kesehariannya, Asmat sudah beradaptasi pula dengan lingkungan air sejak jaman nenek moyang mereka. Demikian pula dengan kebiasaan mereka ketika berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, mereka mau tidak mau harus menggunakan alat transportasi air. Salah satu yang menjadi tradisi unik mereka dalam bertransportasi di air adalah perahu lesung.

Perahu Lesung suku Asmat adalah perahu yang sangat unik. Perahu ini terbuat dari satu batang pohon utuh yang dibentuk hingga menjadi perahu. Kayu yang dipakai biasanya diambil dari pepohonan yang jarang dipakai seperti Ketapang atau Bitanggur. Jadi, setelah ditebang, kulit batang pohon akan dikupas hingga bersih dan kemudian kedua ujung batang akan diruncingkan. Setelah proses tersebut, batang pohon siap dibentuk menjadi perahu.

Proses pembuatan perahu dapat memakan waktu sekitar 5 minggu bila dikerjakan dengan cara tradisional. Namun, setelah suku Asmat mengenal alat-alat modern dari besi, satu perahu dapat dikerjakan hanya dalam waktu 1-2 minggu. Pertama batang kayu akan dihaluskan, semua bagian batang yang berlekuk akan diluruskan agar perahu dapat melaju normal di air. Setelah halus, batang kayu akan dilubangi untuk membentuk tempat penumpang. Kemudian, bila sudah terbentuk ruang penumpang, seluruh bagian perahu baik luar dan dalam akan dihaluskan kembali dengan menggunakan kulit siput. Perahu sudah mulai terlihat bentuknya dan proses selanjutnya adalah membakar bagian bawah perahu. Hal ini dilakukan agar perahu menjadi lebih ringan ketika melaju.

Tahap terakhir sebagai penyempurnaan adalah tahap memberi hiasan. Hiasan ini dapat berupa ukiran lukisan pada dinding luar perahu. Hiasan ini bukanlah sebuah keharusan, perahu-perahu yang dipergunakan sehari-hari biasanya sangat minim hiasan. Namun demikian, bagi suku Asmat hiasan pada perahu Lesung mempunyai arti yang cukup penting, karena dapat diartikan sebagai penghubung antara mereka yang masih hidup dengan leluhur mereka yang sudah lama tiada. Mereka meyakini bahwa di tiap lukisan atau ukiran terdapat citra dan penghargaan atas kebesaran suku Asmat yang dipersembahkan bagi nenek moyang mereka.

Berkaitan dengan kepercayaan pada nenek moyang tersebut, maka tidak heran bagi sebagian besar suku Asmat, biasanya ada upacara yang dilakukan setelah perahu siap digunakan. Bahkan, ada beberapa pantangan saat mereka membuat perahu Lesung. Suku Asmat percaya bahwa tidak boleh banyak bunyi-bunyian saat mereka membuat perahu. Selain itu, batang kayu yang belum menyentuh air tidak boleh diinjak karena akan membuat batang tersebut sulit dipindahkan.

Terdapat dua jenis perahu lesung, yaitu perahu untuk keluarga dan perahu untuk klan. Perahu untuk keluarga biasanya lebih kecil, sekitar 4-7 meter dan mampu memuat 2-5 orang. Sedangkan untuk perahu khusus klan, berukuran lebih panjang sekitar 10-20 meter dan memiliki daya tamping hingga 20 orang. Selain itu, perahu juga dibedakan menurut fungsinya, ada perahu yang dipergunakan sekedar untuk mencari ikan, berburu atau transportasi, namun ada juga perahu khusus yang dipergunakan untuk perang atau perjalanan jauh.

Dayung, yang dipergunakan pun biasanya dibuat dari kayu besi atau pala hutan karena ketahanannya. Ukuran dayung cukup panjang karena suku Asmat biasa mengendarai perahu dengan posisi berdiri. Mereka menganggap posisi berdiri adalah posisi siaga bila sewaktu-waktu mereka diserang musuh atau buaya. Karena kesiapsiagaan mereka, maka dayung yang dipergunakan umumnya berujung lancip sehingga dapat digunakan sekaligus sebagai tombak.

Suku Asmat masih mempertahankan tradisi ini hingga kini. Mereka sangat menghormati keberadaan perahu Lesung karena banyak membantu kelancaran aktifitas kehidupan mereka. Selain itu, perahu Lesung adalah alat transportasi yang sangat dekat dengan alam dan leluhur mereka. Sebagai satu bangsa Indonesia, warisan nenek moyang ini perlu kita jaga dan lestarikan. Kebudayaan suku Asmat adalah salah satu bukti bahwa Indonesia adalah bangsa maritim yang kaya akan nilai budaya dan sejarah. [@phosphone/IndonesiaKaya]


Harlem




Jayapura dikenal memiliki banyak pantai yang begitu indah, mulai dari Pantai Base-G, Pantai Hamadi, dan beberapa lainnya. Namun, ternyata ada satu pantai lagi yang dikenal dengan keindahannya, pantai ini bernama Pantai Harlem. Konon, pantai Harlem adalah pantai tercantik yang dimiliki Jayapura. Perjalanan dimulai dari kota Jayapura menuju Desa Tablanusu, di distrik Depapre, kabupaten Jayapura dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Untuk sampai di Pantai Harlem, dari desa Tablanusu yang cantik ini, perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan perahu motor selama kurang lebih 30 menit. Perahu akan mengarungi sedikit wilayah Samudera Pasifik hingga akhirnya perahu akan bersandar di Pantai Harlem yang indah.

Keindahan Pantai Harlem seakan tidak ada habisnya. Diawali dengan sambutan air laut yang begitu jernih dan bergradasi sesuai kedalamannya, Pantai Harlem membawa alam yang indah hingga hamparan pasir putih yang lembut. Belum lagi pepohonan alami nan teduh yang menjadi latar belakang pantai Harlem, menyempurnakan keindahan pantai yang sering disebut surga tersembunyi di Papua ini.

Situasi di Pantai Harlem sangatlah tenang. Desa kecil yang terdapat di wilayah pantai ini hanya berisi kurang lebih 50 orang dan untuk mencapai pantai ini dari darat sangatlah sulit, mengingat jalan darat yang hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki di antara lebatnya hutan Papua. Kondisi ini menjadikan Pantai Harlem menjadi pantai yang sepi dan sangat tenang. Namun, justru karena ketenangannya inilah, Pantai Harlem mendapatkan pesonanya di mata para wisatawan. Mereka yang datang ke pantai ini umumnya memang mencari kedamaian dalam suasana tenang yang dimiliki Harlem.

Sedikit bergeser dari bibir pantai ke arah hutan, Pantai Harlem memiliki sebuah kolam air tawar. Kondisi wilayah seperti ini merupakan kondisi yang sangat unik dan belum tentu ditemui di pantai lain. Sebuah pantai dengan air laut yang asin berbatasan langsung dengan kolam air tawar yang sama sekali tidak berasa asin, inilah hal lain yang menjadikan Pantai Harlem lebih istimewa dripada pantai lainnya. Bahkan, wisatawan yang mengunjungi pantai ini seringkali membilas tubuh di kolam air tawar ini setelah puas bermain air di laut.

Semakin lama berada di Pantai Harlem, maka semakin sulit bagi kita untuk meninggalkannya. Pantai Harlem memiliki pesona yang luar biasa, terutama saat matahari terbenam di ufuk barat. Angin yang semilir bertiup akan menjadi teman sempurna saat menikmati terbenamnya sang raja siang. Pemandangan ini akan terasa lebih sempurna ketika siluet anak-anak yang bermain di ayunan sederhana menjadi latar depan prosesi tenggelamnya matahari. Saat ini semua terjadi, maka tak akan diragukan lagi, Pantai Harlem adalah surga tersembunyi nan cantik di alam Papua. [@phosphone/IndonesiaKaya]




desa kerikil

Tablanusu adalah sebuah desa adat yang menarik untuk dikunjungi. Keistimewaan desa  ini ada pada lokasinya yang terletak di atas dataran berkerikil. Pada umumnya, pantai berselimutkan pasir yang menghampar. Namun, di Tablanusu kerikil hitam membentang sejauh mata memandang dengan begitu indah menghiasi desa wisata ini. Tidak hanya pada bibir pantai, tetapi seluruh permukaan daratan di desa ini tertutup kerikil hitam.
Menurut salah seorang Tetua Adat setempat, Bapak Petrus Sawulena, Desa Tablanusu yang ada saat ini merupakan lokasi ketiga yang ditempati sejak leluhur pertama bermukim. Desa ini terletak di sebuah teluk cantik dengan pemandangan laut lepas yang begitu indah. Lokasi Desa ini tepatnya berada di sebelah Barat Daya kota Jayapura.
Desa ini pun memiliki sejarah yang masih berhubungan dengan Perang Dunia ke-2 di kota Jayapura. Keadaan alam desa ini yang berupa teluk, menjadikan lokasi desa ini sebagai dropping area kebutuhan logistik tentara sekutu pada masa lalu. Saat ini pun sisa peninggalan Perang Dunia ke-2 berupa tangki-tangki masih dapat kita lihat tidak jauh dari pintu masuk desa.
Suasana yang tenang begitu terasa ketika kita duduk di tepi pantai berkerikil hitam. Deburan ombak, gemericik suara kerikil yang terinjak,  tawa anak-anak yang berenang di pantai, serta angin yang bertiup lembut menambah harmonisasi keindahan desa berpenduduk sekitar 500 jiwa ini setiap harinya. Keramahan penduduk serta damainya lingkungan kehidupan desa membuat para wisatawan enggan untuk beranjak dari desa ini.
Sebagian besar penduduk desa Tamblanusu bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, tidak sedikit pula yang memiliki usaha budidaya ikan mujair serta persewaan kapal motor dan banana boat. Seniman ukir pun dapat ditemui di desa ini, namun jumlahnya tidak banyak karena masih dalam tahap pengembangan. Hingga kini, desa ini pun terus meningkatkan kualitas alam dan warganya, khususnya terkait pariwisata yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan, baik dari dalam maupun luar Indonesia.
Untuk sampai ke desa ini, wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari kota Jayapura dengan menggunakan kendaraan bermotor. Namun, walaupun terpencil, wisatawan yang mengunjungi desa ini tidaklah sedikit, bahkan wisatawan mancanegara pun sudah banyak mengetahui keberadaan desa Tablanusu yang tenang nan cantik ini. Mereka umumnya mencari ketenangan, sekedar ingin santai, berkeliling ke pulau-pulau sekitar atau menikmati obyek wisata air seperti banana boat yang tersedia di desa ini. Inilah desa Tablanusu, desa kecil yang cantik di utara Papua dengan keunikannya. Sayang rasanya, apabila datang ke Jayapura namun belum mengunjungi desa Tablanusu. [@phosphone/IndonesiaKaya]