Kebutuhan Energi Dan Aktivitas Fisik
Pemberian
makanan harus memperhatikan: jenis kelamin, umur, berat badan, serta jenis kegiatan. Kita sudah mengetahui bahwa energi dan zat
gizi/nutrien yang dibutuhkan oleh tubuh untuk semua proses-proses
fisiologis untuk melangsungkan dan mempertahankan kehidupan berasal dari
makanan dan minuman yang dikonsumsi. Nutrien yang kita peroleh dari makanan
bisa dibagi paling tidak menjadi 5 golongan yaitu karbohidrat atau zat hidrat
arang, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Adapula yang memasukkan air
sebagai salah satu unsur nutrisi, karena memang tidak dapat dipungkiri air
merupakan zat yang sangat penting untuk kelangsungan hidup.
Tidak semua
zat makanan/nutrien yang kita konsumsi memberikan energi bagi tubuh. Hanya
karbohidrat, protein dan lemak yang memberikan energi. Lemak pun ada yang tidak
memberikan energi seperti kolesterol. Perlutahu bahwa lemak itu ada
bermacam-macam, tidak hanya satu zat saja. Kebanyakan lemak yang kita konsumsi
adalah dalam bentuk trigliserida yang secara kasat mata bisa kita lihat
bentuknya misalnya pada lemak yang menempel pada daging. Trigliserida ini
adalah merupakan cadangan makanan yang disimpan dibawah kulit dan sekitar organ
dalam perut (visceral fat) baik pada manusia maupun hewan yang akan
dipecah saat tubuh memerlukan sumber energi tambahan apabila kadar glukosa
darah menurun dan glikogen (bentuk cadangan glukosa) di hati telah
menipis.
Saat sedang
berolahraga terdapat dua simpanan energi utama yang akan digunakan oleh
tubuh untuk menghasilkan energi yaitu simpanan karbohidrat dan lemak. Simpanan
karbohidrat terdapat dalam jumlah yang terbatas di dalam tubuh yaitu
sekitar 0.5 kg dan tersimpan dalam bentuk glikogen otot, glikogen hati
dan glukosa darah. Sedangkan lemak dalam jumlah yang besar akan tersimpan
di dalam jaringan adipose dan di dalam otot sebagai triasilgliserol.
Proses produksi
energi di dalam sel otot akan berlangsung tepatnya di dalam
mitokondria sel. Di dalam mitokondria, lemak atau karbohidrat akan dioksidasi
atau dalam istilah yang lebih popular akan di ‘bakar’ untuk menghasilkan
molekul energi ATP ( adenosin trifosfat ) yang merupakan sumber energi di dalam
sel-sel tubuh.
Selama berolahraga,
secara ideal energi harus dapat diperoleh oleh sel-sel otot dengan laju yang
sama dengan kebutuhannya. Adanya ketidakseimbangan antara laju pemakaian energi
dengan pergantian atau jumlah persediaan energi akan
mengurangi kerja maksimal otot sehingga secara perlahan intensitas
olahraga akan menurun dan tubuh akan terasa lelah akibat dari terjadinya
ketidakseimbangan neraca energi.
Kebutuhan energi untuk pertumbuhan (kalori/hari)
|
Jenis
kelamin anak
|
Umur
|
Tambahan
energy
|
|
Anak
laki-laki dan
|
10 – 14
tahun
|
2 kalori/kg
berat badan
|
|
Perempuan
|
15 tahun
|
1
kalori/kg berat badan
|
|
16 – 18
tahun
|
0,5
kalori/kg berat badan
|
Sumber Energi Dalam Olahraga
Kebutuhan energi pada
saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang tersimpan di
dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak, serta
kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya, simpanan
protein bukanlah merupakan sumber energi yang langsung dapat digunakan oleh
tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak
tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh.
Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi
untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas
serta durasi olahraga yang dilakukan.
Pada olahraga
intensitas rendah (ą25 VO max) dengan waktu durasi yang panjang seperti jalan
kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang
lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam hal produksi
energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi utama
tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap
akan dibutuhkan oleh tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk
mempertahankan level glukosa darah.
Pada olahraga
intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga
beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan
berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang
lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak dalam memproduksi energi di
dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi utama
tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada
rentang 70-95% VO max.
Glikogen merupakan
simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai
salah satu sumber energi. Terbentuk dari mokekul glukosa yang saling mengikat
dan membentuk molekul yang lebih kompleks, simpanan glikogen memilik fungsi
sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber
energi bagi sistem pusat syaraf dan otak.
Di dalam tubuh,
jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan oleh
tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan otot,glikogen akan memberikan
kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam hati glikogen
akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati. Walaupun
memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot memiliki
jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati.
Pada jaringan otot,
glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat digunakan secara langsung
oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu juga dengan hati yang
dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk memproduksi energi di dalam
tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai peranan yang penting dalam
menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk menjaga level glukosa darah.
Sebagai sumber energi
simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh secara langsung akan
mempengaruhi kapasitas/ performa seorang atlet saat menjalani program latihan
ataupun juga saat pertandingan. Secara garis besar hubungan antara konsumsi
karbohidrat, simpanan glikogen dan performa olahraga dapat di simpulkan sebagai
berikut:
- Konsumsi karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan simpanan glikogen tubuh.
- Semakin tinggi simpanan glikogen maka kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik juga akan semakin meningkat
- Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menurunkan/membatasi kemampuan atlet untuk mempertahankan intensitas dan waktu latihannya.
- Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menyebabkan atlet menjadi cepat lelah jika dibandingkan dengan seorang atlet dengan simpanan glikogen tinggi.
- Konsumsi karbohidrat setelah latihan/pertandingan akan mempercepat penyimpanan glikogen yang kemudian juga akan mempercepat proses pemulihan(recovery) seorang atlet.
a. Protein
Protein merupakan
salah satu jenis nutrisi yang mempunyai fungsi penting sebagai bahan dasar bagi
pembentukan jaringan tubuh atau bahan dasar untuk memperbaiki jaringan-jaringan
tubuh yang telah rusak. Selain dari kedua fungsi tersebut, protein juga akan
mempunyai fungsi sebagai bahan pembentuk hormon dan pembentuk enzim yang akan
kemudian juga akan terlibat dalam berbagai proses metabolisme tubuh. Kebutuhan
protein bagi seorang atlet disebutkan berada berada pada rentang 1.2-1.6 gr/kg
berat badan per-harinya dan nilai ini berada diatas kebutuhan protein bagi
non-atlet yaitu sebesar 0.6-0.8 gr/kg berat badan.
Peningkatkan
kebutuhan protein bagi atlet ini disebabkan oleh karena atlet lebih beresiko
untuk mengalami kerusakan jaringan otot terutama saat menjalani
latihan/pertandingan olahraga yang berat. Selain itu pada olahraga yang
bersifat ketahanan (endurance) dengan durasi panjang sebagian kecil asam
amino dari protein juga akan digunakan sebagai sumber energi terutama saat
simpanan glikogen sudah semakin berkurang. Oleh karena hal-hal tersebut
diatas maka kebutuhkan konsumsi protein seorang atlet dalam kesehariannya akan
relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan non-atlet.
Pengunaan protein
sebagai sumber energi tubuh saat berolahraga biasanya akan dicegah karena hal
tersebut akan menganggu fungsi utamanya sebagai bahan pembangun tubuh dan
fungsiya untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Dan dalam
hubungannya dengan laju produksi energi di dalam tubuh, pemecahan protein
jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat maupun lemak juga hanya akan
memberikan kontribusi yang relatif kecil.
Pada saat berolahraga
terutama olahraga yang bersifat ketahanan, protein dapat memberikan kontribusi
sebesar 3-5% dalam produksi energi tubuh dan kontribusinya ini dapat mengalami
peningkatan melebihi 5% apabila simpanan glikogen & glukosa darah sudah
semakin berkurang sehingga tidak lagi mampu untuk mendukung kerja otot. Melalui
asam amino yang dilepas oleh otot atau yang berasal dari jaringan-jaringan
tubuh lainnya, liver (hati) melalui proses gluconeogenesis dapat
mengkonversi asam amino atau substrat lainya menjadi glukosa untuk kemudian
mengeluarkannya ke dalam aliran darah agar konsentrasi glukosa darah dapat
dipertahankan pada level normal.
Namun pengunaan
protein sebagai sumber energi seperti yang telah disebutkan akan mengurangi
fungsi utamanya sebagai bahan pembangun tubuh serta juga fungsinya untuk
memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Selain itu, pembakaran protein
sebagai sumber energi juga akan memperbesar resiko terjadinya dehidrasi akibat
dari adanya produk samping berupa nitrogen yang harus dikeluarkan dari dalam
tubuh melalui urine. Oleh karena itu untuk mencegah pemakaian protein secara
berlebihan sebagai sumber energi saat berolahraga, seorang atlet diharapkan
untuk mengkonsumsi karbohidrat yang cukup agar dapat meningkatkan simpanan
glikogen dan juga dapat menjaga level glukosa darah di dalam tubuh.
b. Lemak
Di dalam tubuh, lemak
dalam bentuk trigliserida akan tersimpan dalam jumlah yang terbatas pada
jaringan otot dan akan tersimpan dalam jumlah yang cukup besar pada jaringan adipose.
Ketika sedang berolahraga, trigliserida yang tersimpan ini dapat terhidrolisis
menjadi gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid / FFA) untuk
kemudian menghasilkan energi.
Pada olahraga dengan
intensitas rendah sepeti jalan kaki atau lari-lari kecil, ketika kebutuhan
energi rendah dan kecepatan ketersediaan energi bukanlah merupakan hal yang
penting, simpanan lemak akan memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber
energi utama bagi tubuh. Kontribusi simpanan lemak sebagai sumber energi tubuh
baru akan berkurang apabila terjadi peningkatan intensitas dakam berolahraga.
Pada saat terjadinya
peningkatan intensitas olahraga yang juga akan meningkatkan kebutuhan energi,
pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan
dengan pembakaran karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam tubuh.
Walaupun pembakaran lemak ini memberikan kontribusi yang lebih kecil jika
dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat saat intensitas olahraga meningkat,
namun kuantitas lemak yang terbakar tetap akan lebih besar jika dibandingkan
saat berolahraga dengan intensitas rendah.
Pada saat berolahraga
kompetitif dengan intensitas tinggi, pengunaan lemak sebagai sumber energi
tubuh akibat dari mulai berkurangnya simpanan glikogen otot dapat menyebabkan
tubuh terasa lelah sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan
menurun. Hal ini disebabkan karena produksi energi melalui pembakaran
lemak berjalan lebih lambat jika dibandingkan dengan laju produksi energi
melalui pembakaran karbohidrat walaupun pembakaran lemak akan menghasilkan
energi yang lebih besar (9kkal/gr) jika dibandingan dengan pembakaran
karbohidrat (4 kkal/gr). Perlu juga untuk diketahui bahwa jaringan adipose
dapat menghasilkan asam lemak bebas dalam jumlah yang tidak terbatas, sehingga
kelelahan serta penurunan performa yang terjadi pada saat berolahraga tidak
akan disebabkan oleh penurunan simpanan lemak tubuh.
c. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan
nutrisi sumber energi yang tidak hanya berfungsi untuk mendukung aktivitas
fisik seperti berolahraga namun karbohidrat juga merupakan sumber energi utama
bagi sitem pusat syaraf termasuk otak. Di dalam tubuh, karbohidrat yang
dikonsumsi oleh manusia dapat tersimpan di dalam hati dan otot sebagai simpanan
energi dalam bentuk glikogen. Total karbohidrat yang dapat tersimpan di dalam
tubuh orang dewasa kurang lebih sebesar 500 gr atau mampu untuk menghasilkan
energi sebesar 2000 kkal. Di dalam tubuh manusia, sekitar 80% dari karbohidrat
ini akan tersimpan sebagai glikogen di dalam otot, 18-22% akan tersimpan
sebagai glikogen di dalam hati dan sisanya akan bersirkulasi di dalam aliran
darah dalam bentuk glukosa.
Pada saat berolahraga
terutama olahraga dengan intensitas moderat-tinggi, kebutuhan energi bagi tubuh
dapat terpenuhi melalui simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui
simpanan glukosa yang terdapat di dalam aliran darah (blood glucose)
dimana ketersediaan glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh
glikogen hati agar levelnya tetap berada pada keadaan normal. Proses pembakaran
1 gram karbohidrat akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Walaupun nilai ini
relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan energi hasil pembakaran lemak,
namun proses metabolisme energi karbohidrat akan mampu untuk menghasilkan ATP
(molekul dasar pembentuk energi) dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan
laju yang lebih cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak.
d. Simpanan karbohodrat ( glikogen )
Jumlah simpanan
glikogen yang terdapat di dalam tubuh merupakan salah satu faktor penentu
performa seorang atlet . Atlet yang mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang
besar dalam sehari-hari akan memilki simpanan glikogen yang relatif lebih besar
jika dibandingan dengan atlet yang mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang
kecil. Dengan simpanan glikogen yang rendah, seorang atlet dalam menjalankan
latihan/pertandingannya akan cepat merasa lelah sehingga kemudian mengakibatkan
terjadinya penurunan intensitas dan performa olahraga. Hal ini berbeda dengan
seorang atlet yang akan memiliki performa dan ketahanan yang lebih baik apabila
memiliki simpanan glikogen yang besar.
Perlu juga untuk
diketahui bahwa glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan
untuk keperluan energi di dalam otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke
dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang
membutuhkannya. Hal ini berbeda dengan glikogen yang tersimpan di dalam hati
yang dapat dikonversi menjadi glukosa melalui proses glycogenolysis ketika
terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkan. Walaupun jumlah karbohidrat yang
dapat tersimpan sebagai glikogen ini memilikiketerbatasan, namun kapasitas
penyimpanannya terutama kapasitas penyimpanan glikogen otot dapat ditingkatkan
dengan cara mengurangi konsumsi lemak dan memperbesar konsumsi bahan pangan
kaya akan karbarbohidrat seperti roti, kentang, jagung,singkong atau juga
pasta. Pengisian tubuh dengan karbohidrat pada masa persiapan ini biasanya
dikenal dengan istilah carbohydrate loading dan akan memberikan manfaat
terutama bagi atlet yang akan berkompetisi dalam cabang olahraga endurance atau
atlet yang akan melakukan latihan/ pertandingan dengan durasi lebih dari 90
menit.
Kecepatan Produksi Energi Dalam
Olahraga
Salah satu
faktor yang menjadi penyebab utama penurunan kapasitas perfoma tubuh saat
beraktivitas fisik seperti berolahraga selain karena berkurangnya
jumlah cairan dari dalam tubuh juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah
simpanan glukosa (energi) tubuh.
Glukosa merupakan
nutrisi karbohidrat terpenting karena mempunyai fungsi utama
sebagai penyedia energi bagi berbagai aktivitas fisik tubuh. Berfungsi
sebagai ‘bahan bakar’ utama dalam proses metabolisme energi, menjadikan
simpanannya di dalam aliran darah (blood glucose), otot dan hati
(glikogen) menjadi salah satu faktor penting yang menentukan performa
tubuh saat melakukan olahraga intensitas tinggi bertenaga, olahraga
ketahanan (endurance) ataupun juga olahraga kombinasi keduanya seperti
sepakbola, tenis, bola basket ataupun bulutangkis.
Mengkonsumsi air
putih yang telah ditambahkan karbohidrat glukosa terbukti dapat membantu
meningkatkan performa olahraga. Karena merupakan karbohidrat dengan bentuk
molekul yang paling sederhana, glukosa mudah diserap dan dapat cepat
menyediakan energi bagi sel-sel tubuh.
Di dalam tubuh
konsumsi glukosa dapat menghasilkan laju produksi energi yang besar
hingga 1 gram per menit.3 Dan manfaat lebih akan didapatkan apabila
glukosa ini dipadukan karbohidrat jenis lain seperti sukrosa atau fruktosa,
karena selain akan membantu mempercepat proses penyerapan cairan ke dalam
tubuh kombinasi antara glukosa-sukrosa atau glukosa-fruktosa ini juga
akan menghasilkan laju produksi energi yang lebih besar di dalam tubuh hingga
mencapai 1.3 gram per menit.
Kompenen
penggunaan energi di tubuh terdiri dari tiga bagian. Bagian yang
pertama dipakai untuk metabolisme basal tubuh. Metabolisme basal ini
adalah kumpulan seluruh proses-proses yang terjadi dalam tubuh untuk
mempertahankan kehidupan. Didalamnya tercakup energi yang digunakan oleh tubuh
untuk mengganti sel-sel yang rusak, proses bernapas dan berpikir, proses
berdenyutnya jantung, pendek kata untuk semua proses internal sel-sel dan
jaringan tubuh untuk mempertahankan kehidupannya. Kurang lebih 70%
energi yang kita konsumsi dipergunakan oleh tubuh untuk proses-proses
fisiologis ini. Jadi meski kita tidur saja di rumah, kita tetap butuh
makan untuk memenuhi kebutuhan energi ini.
Yang kedua
adalah energi untuk aktivitas fisik seperti untuk berjalan, menulis,
berolahraga dan sebagainya. Besarannya sekitar 20 % dari penggunaan energi
tubuh. Ini merupakan bagian yang paling dinamis dan bergantung pada berapa
besar aktivitas fisik yang dilakukan.
Sisanya
yang 10 persen digunakan untuk proses pengolahan makanan berupa pencernaan dan
penyerapan zat makanan. Mungkin anda pernah merasakan bagaimana tubuh terasa
lebih panas, dan kadang kadang berkeringat saat makan? Ini adalah bagian dari
energi untuk metabolisme tersebut yang dalam istilahnya disebut Thermic Effect of Food.
Kalau jumlah
energi yang kita konsumsi melebihi kebutuhan energi tubuh, maka kelebihan
energi tersebut akan disimpan berupa lemak (trigliserida) yang akan dipecah untuk
digunakan kemudian jika asupan energi mengalami defisit.
2.Tetap
Mengontrol Berat Badan dan Presentase Lemak
Berolahraga atau beraktivitas
fisik secara
teratur adalah penting bagi kesehatan. Selain membantu mencegah dan
mengendalikan penyakit, olahraga juga bermanfaat untuk menurunkan, menambah dan
menjaga berat badan yang sehat serta presentase lemak tubuh.
Bila kelebihan berat badan, meningkatkan aktivitas
fisik akan menambah pembakaran kalori oleh tubuh. Pembakaran kalori melalui
kegiatan fisik ini, dikombinasikan dengan pengurangan asupan kalori melalui
diet, menciptakan “defisit kalori” yang menghasilkan penurunan berat badan.
Sebagian besar penurunan berat badan terjadi karena pengurangan
asupan kalori. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa satu-satunya cara
untuk mempertahankan penurunan
berat badan adalah dengan beraktivitas fisik secara teratur. Diet rendah kalori saja tidak
cukup karena
setelah terbiasa dengan kalori yang
lebih sedikit, tubuh akan meningkatkan efisiensi penggunaan kalori. Berat tubuh
akan cenderung bertambah kembali ke tingkat semula meskipun asupan kalori
tetap. Untuk mendapatkan dan mempertahankan berat badan yang sehat, setiap
orang membutuhkan aktivitas fisik yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa
panduan sederhana yang dapat diterapkan:
1. Untuk menjaga berat
badan.
Bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa aktivitas
fisik dapat membantu Anda menjaga berat badan dari waktu ke waktu. Setiap
minggu, lakukanlah aktivitas fisik aerobik 150 menit dengan intensitas sedang
atau 75 menit aktivitas aerobik dengan intensitas kuat, atau campuran keduanya
yang setara. Ini hanyalah patokan umum. Jumlah pasti aktivitas fisik yang
diperlukan dapat bervariasi dari orang ke orang. Anda mungkin perlu melakukan
lebih atau kurang dari rekomendasi tersebut untuk menjaga berat badan
Anda.
2. Untuk menurunkan berat
badan dan mempertahankannya.
Membutuhkan jumlah aktivitas fisik lebih banyak,
kecuali jika menyesuaikan diet dan mengurangi kalori yang di makan dan minum.
Mendapatkan dan mempertahankan berat badan yang sehat membutuhkan kombinasi
aktivitas fisik yang teratur dan pola makan yang sehat.
|
Kalori
digunakan per 30 menit pada aktivitas umum
|
|
|
Aktivitas Fisik Sedang
|
Kalori /30 Menit
|
|
Hiking (naik gunung)
|
185
|
|
Berkebun
ringan
|
165
|
|
Menari
|
165
|
|
Golf
|
165
|
|
Bersepeda
(<15 km/jam)
|
145
|
|
Berjalan
(5 km/jam)
|
140
|
|
Angkat
beban ringan
|
110
|
|
Peregangan
|
90
|
|
Aktivitas Fisik Kuat
|
Kalori/30 menit
|
|
Berlari/jogging
(7-8 km/jam)
|
295
|
|
Bersepeda
(>15 km/jam)
|
295
|
|
Berenang
(putaran gaya bebas)
|
255
|
|
Senam
aerobik
|
240
|
|
Berjalan
cepat (6 km/jam)
|
230
|
|
Berkebun
berat (menebang pepohonan)
|
220
|
|
Angkat
beban intensif
|
220
|
|
Bola
basket (pertandingan)
|
220
|
|
Sumber:
diadaptasi dari Dietary Guidelines for Americans 2010.
|
|
Intensitas aktivitas fisik
Intensitas adalah tingkat usaha yang dibutuhkan oleh
seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Ada beberapa cara untuk menentukan
intensitas aktivitas fisik:
1. Intensitas relatif
Bila menggunakan intensitas relatif,memperhatikan
bagaimana aktivitas fisik memengaruhi detak jantung dan pernapasan.
Uji bicara adalah cara sederhana untuk mengukur
intensitas relatif. Sebagai aturan mudah, jika melakukan aktivitas
berintensitas sedang maka masih dapat berbicara, tetapi tidak dapat bernyanyi
pada saat kegiatan tersebut. Jika melakukan aktivitas berintensitas kuat,tidak
akan bisa mengucapkan lebih dari beberapa kata tanpa berhenti untuk menarik
napas.
2. Intensitas absolut
sesuai kebutuhan energi
Intensitas absolut diukur berdasarkan jumlah energi
yang digunakan oleh tubuh per menit kegiatan. Tabel di samping adalah contoh
daftar aktivitas yang diklasifikasikan dalam intensitas sedang atau kuat
berdasarkan jumlah kalori yang digunakan oleh tubuh saat melakukan aktivitas.
Jumlah kalori dibakar tersebut adalah untuk orang dengan berat badan 70 kg.
Jika berat badan lebih atau kurang dari itu, maka kalori yang dibakar akan
lebih sedikit atau lebih banyak.
3. Intensitas menurut denyut
jantung latihan
Cara lain untuk menentukan intensitas aktivitas fisik
adalah dengan mengukur denyut nadi atau detak jantung selama aktivitas fisik.
|
|
|
|
Hi kunjungi juga artikel Kebutuhan energi pada tubuh manusia beserta sumber energi dan perhitungannya semoga bermanfaat
BalasHapus