1.
Kondisi Fisik dan Peranannya dalam Prestasi Olahraga
Aspek kondisi fisik merupakan bagian terpenting dalam semua cabang
olahraga, terutama untuk mendukung aspek-aspek lainnya seperti teknik, taktik dan
mental. Kondisi fisik sangat menentukan dalam mendukung tugas atlet dalam
pertandingan sehingga dapat tampil secara maksimal. Harsono (1988:153)
menjelaskan bahwa:
Kondisi fisik atlet memegang peranan yang sangat penting dalam program latihannya. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan sistematis dan ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian memungkinkan atlet untuk mencapai prestasi yang lebih baik.
Setiawan (1992:110) menjelaskan lebih lanjut bahwa, “Atlet yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang baik akan terhindar dari kemungkinan cedera yang biasanya terjadi jika seseorang melakukan kerja fisik yang berat.”
Apabila seseorang mempuyai kondisi fisik yang baik maka dia mampu melakukan tugas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. Kondisi fisik sangat menunjang atlet dalam bertanding, sehingga dalam pertandingan atlet tidak mengalami kelelahan yang berarti dan akan terhindar dari cedera yang dapat mengganggu penampilannya, oleh karena itu peranan kondisi fisik sangatlah diperlukan dalam olahraga. Harsono (1988:153) mengemukakan sebagai berikut:
Apabila kondisi baik maka:
1. Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.
2. Akan ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik.
3. Akan ada ekonomi gerak yang lebih pada waktu latihan.
4. Akan ada pemulihan yang cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.
5. Akan ada respons yang cepat dari organisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respons demikian diperlukan.
Kalau faktor-faktor tersebut kurang tercapai setelah suatu masa latihan kondisi fisik tertentu, maka hal ini berarti bahwa perencanaan dan sistematika latihan kurang sempurna, karena sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet.
Bola basket merupakan olahraga yang dinamis dan menuntut kesiapan fisik yang prima dengan dukungan teknik, taktik dan mental yang memadai. Pergerakan pemain dalam pertandingan, baik dengan bola maupun tanpa bola sangat cepat dan dengan hilir mudik mencari-cari celah daerah yang dapat diterobos untuk memasukkan bola ke ring lawan. Kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga begitu menguras energi dan menyebabkan kelelahan.
Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa dengan kondisi fisik yang prima maka akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung, akan ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik, akan ada ekonomi gerak yang lebih pada waktu latihan, akan ada pemulihan yang cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan, maka hal ini memperjelas bahwa kondisi fisik sangat berperan dalam olahraga bola basket terutama untuk dapat bermain bola basket dengan dinamis tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
Kondisi fisik merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan atlet dalam cabang olahraga tertentu. Atlet yang memiliki kualitas fisik yang baik maka kualitas gerak atau keterampilan motoriknya cenderung baik pula. Setiawan (1991:110) mengatakan, bahwa “Dalam hal lain kondisi fisik juga berperan untuk meningkatkan kebugaran jasmani agar seseorang mencapai hasil kerja yang lebih produktif.”
Pertimbangan kondisi fisik itu harus dikembangkan didasarkan pada karakteristik cabang olahraga yang digelutinya, sebab pada suatu cabang olahraga tertentu mungkin memerlukan komponen kondisi fisik secara keseluruhan, sedangkan pada cabang lain mungkin hanya sebagian saja. Jadi masalah peran komponen kondisi fisik ini bersifat relatif, karena bergantung pada karakteristik cabang olahraganya. Hal ini dijelaskan Harsono (1988:153) sebagai berikut: “Sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet.” Selanjutnya Moeloek (1984:12) menyatakan bahwa, “Peningkatan yang diperoleh dari latihan fisik dapat dilihat antara lain berupa peningkatan kemampuan gerak, tidak cepat merasa lelah, peningkatan keterampilan (skill) dan sebagainya.”
Dengan demikian maka jelaslah bahwa latihan kondisi fisik merupakan bagian yang paling mendasar dalam usaha meningkatkan prestasi seorang atlet. Oleh karena itu dalam proses pelatihan suatu cabang olahraga perlu adanya penekanan pada aspek fisik tanpa mengenyampingkan kondisi-kondisi lainnya seperti teknik, taktik dan mental para atlet.
Sajoto (1988:16) mengatakan, “Kondisi fisik adalah salah satu persyaratan yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan yang tidak dapat ditunda-tunda atau ditawar-tawar lagi.” Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa kondisi fisik merupakan kondisi yang paling mendasar dalam upaya pemberdayaan aspek-aspek lainnya.
Peran komponen kondisi fisik terlihat sangat menonjol dalam olahraga bola basket dan pada level pertandingan tertentu olahraga bola basket berlangsung sangat dinamis. Seorang atlet bola basket di level tersebut harus dapat menggunakan berbagai teknik permainan dengan dukungan fisik yang prima, karena biasanya berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan intensitas yang tinggi.
Aspek fisik sebagai dasar prestasi dalam olahraga seperti daya tahan kardio-respiratori, daya tahan otot, kekuatan otot, kelentukan, kecepatan, daya ledak otot, kelincahan, keseimbangan, koordinasi dan akurasi adalah unsur-unsur yang dibutuhkan dalam sebagian besar cabang olahraga, termasuk olahraga bola basket. Dengan demikian para pelatih, pembina, maupun atlet olahraga bola basket harus dapat mengetahui unsur-unsur fisik yang dibutuhkan oleh setiap cabang olahraga yang digelutinya, khususnya olahraga bola basket.
Kondisi fisik atlet memegang peranan yang sangat penting dalam program latihannya. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan sistematis dan ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian memungkinkan atlet untuk mencapai prestasi yang lebih baik.
Setiawan (1992:110) menjelaskan lebih lanjut bahwa, “Atlet yang memiliki tingkat kesegaran jasmani yang baik akan terhindar dari kemungkinan cedera yang biasanya terjadi jika seseorang melakukan kerja fisik yang berat.”
Apabila seseorang mempuyai kondisi fisik yang baik maka dia mampu melakukan tugas fisik tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. Kondisi fisik sangat menunjang atlet dalam bertanding, sehingga dalam pertandingan atlet tidak mengalami kelelahan yang berarti dan akan terhindar dari cedera yang dapat mengganggu penampilannya, oleh karena itu peranan kondisi fisik sangatlah diperlukan dalam olahraga. Harsono (1988:153) mengemukakan sebagai berikut:
Apabila kondisi baik maka:
1. Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.
2. Akan ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik.
3. Akan ada ekonomi gerak yang lebih pada waktu latihan.
4. Akan ada pemulihan yang cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.
5. Akan ada respons yang cepat dari organisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respons demikian diperlukan.
Kalau faktor-faktor tersebut kurang tercapai setelah suatu masa latihan kondisi fisik tertentu, maka hal ini berarti bahwa perencanaan dan sistematika latihan kurang sempurna, karena sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet.
Bola basket merupakan olahraga yang dinamis dan menuntut kesiapan fisik yang prima dengan dukungan teknik, taktik dan mental yang memadai. Pergerakan pemain dalam pertandingan, baik dengan bola maupun tanpa bola sangat cepat dan dengan hilir mudik mencari-cari celah daerah yang dapat diterobos untuk memasukkan bola ke ring lawan. Kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga begitu menguras energi dan menyebabkan kelelahan.
Sebagaimana penjelasan di atas, bahwa dengan kondisi fisik yang prima maka akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung, akan ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik, akan ada ekonomi gerak yang lebih pada waktu latihan, akan ada pemulihan yang cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan, maka hal ini memperjelas bahwa kondisi fisik sangat berperan dalam olahraga bola basket terutama untuk dapat bermain bola basket dengan dinamis tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
Kondisi fisik merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan atlet dalam cabang olahraga tertentu. Atlet yang memiliki kualitas fisik yang baik maka kualitas gerak atau keterampilan motoriknya cenderung baik pula. Setiawan (1991:110) mengatakan, bahwa “Dalam hal lain kondisi fisik juga berperan untuk meningkatkan kebugaran jasmani agar seseorang mencapai hasil kerja yang lebih produktif.”
Pertimbangan kondisi fisik itu harus dikembangkan didasarkan pada karakteristik cabang olahraga yang digelutinya, sebab pada suatu cabang olahraga tertentu mungkin memerlukan komponen kondisi fisik secara keseluruhan, sedangkan pada cabang lain mungkin hanya sebagian saja. Jadi masalah peran komponen kondisi fisik ini bersifat relatif, karena bergantung pada karakteristik cabang olahraganya. Hal ini dijelaskan Harsono (1988:153) sebagai berikut: “Sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet.” Selanjutnya Moeloek (1984:12) menyatakan bahwa, “Peningkatan yang diperoleh dari latihan fisik dapat dilihat antara lain berupa peningkatan kemampuan gerak, tidak cepat merasa lelah, peningkatan keterampilan (skill) dan sebagainya.”
Dengan demikian maka jelaslah bahwa latihan kondisi fisik merupakan bagian yang paling mendasar dalam usaha meningkatkan prestasi seorang atlet. Oleh karena itu dalam proses pelatihan suatu cabang olahraga perlu adanya penekanan pada aspek fisik tanpa mengenyampingkan kondisi-kondisi lainnya seperti teknik, taktik dan mental para atlet.
Sajoto (1988:16) mengatakan, “Kondisi fisik adalah salah satu persyaratan yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan yang tidak dapat ditunda-tunda atau ditawar-tawar lagi.” Dengan demikian maka dapat dinyatakan bahwa kondisi fisik merupakan kondisi yang paling mendasar dalam upaya pemberdayaan aspek-aspek lainnya.
Peran komponen kondisi fisik terlihat sangat menonjol dalam olahraga bola basket dan pada level pertandingan tertentu olahraga bola basket berlangsung sangat dinamis. Seorang atlet bola basket di level tersebut harus dapat menggunakan berbagai teknik permainan dengan dukungan fisik yang prima, karena biasanya berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan intensitas yang tinggi.
Aspek fisik sebagai dasar prestasi dalam olahraga seperti daya tahan kardio-respiratori, daya tahan otot, kekuatan otot, kelentukan, kecepatan, daya ledak otot, kelincahan, keseimbangan, koordinasi dan akurasi adalah unsur-unsur yang dibutuhkan dalam sebagian besar cabang olahraga, termasuk olahraga bola basket. Dengan demikian para pelatih, pembina, maupun atlet olahraga bola basket harus dapat mengetahui unsur-unsur fisik yang dibutuhkan oleh setiap cabang olahraga yang digelutinya, khususnya olahraga bola basket.
Pengertian
Status Gizi
Status gizi
adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang
didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000:
1).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi
status gizi antara lain:
1) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan
indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli
yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu
proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk
mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
3) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus
dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya
merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan
mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 1991).
4) Budaya
Budaya adalah suatu ciri khas, akan
mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
Faktor Internal
Faktor Internal
yang mempengaruhi status gizi antara lain :
1)
Usia
Usia akan
mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian
nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
2)
Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan
yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan
mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat
rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk
pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all, 1986).
3)
Infeksi
Infeksi dan
demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan
menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).
Penilaian Status Gizi
Penilaian
status gizi secara langsung menunit Supariasa (2001) dapat
dilakukan dengan:
1 Antropometri
Antropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan antropometri
gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri secara
umum digunakan untuk melihat keseimbangan asupan protein dan energi.
2
Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status
gizi berdasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan
ketidakcukupan zat gizi, seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau
organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3
Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah
pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai
macam jaringan. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urine, tinja
dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
4
Biofisik
Penilaian
status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan
melibat kemamapuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
Penilaian
status gizi secara tidak Iangsung menurut Supariasa, IDN (2001)
dapat dilakukan dengan:
1)
Survey Konsumsi Makanan
Survey konsumsi makanan adalah metode
penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat
dan gizi yang dikonsumsi.
Kesalahan dalam survey makanan bisa disebabkan
oleh perkiraan yang tidak tepat dalam menentukan jumlah makanan yang dikonsumsi
balita, kecenderungan untuk mengurangi makanan yang banyak dikonsumsi dan
menambah makanan yang sedikit dikonsumsi ( The Flat Slope Syndrome ),
membesar-besarkan konsumsi makanan yang bernilai sosial tinggi, keinginan
melaporkan konsumsi vitamin dan mineral tambahan kesalahan dalam mencatat (food
record).
2)
Statistik Vital
Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik
kesebatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian
karena penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3)
Faktor Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil
interaksi antara beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya.
Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dan keadaan ekologi seperti iklim,
tanah, irigasi, dan lain-lain.
Macam Klasifikasi Status Gizi
Klasifikasi Status Gizi
Tabel Status Gizi
|
INDEKS
|
STATUS
GIZI
|
AMBANG
BATAS *)
|
|
Berat
badan menurut umur (BB/U)
|
Gizi Lebih
|
> + 2
SD
|
|
Gizi Baik
|
≥ -2 SD
sampai +2 SD
|
|
|
Gizi
Kurang
|
< -2 SD
sampai ≥ -3 SD
|
|
|
Gizi Buruk
|
< – 3
SD
|
|
|
Tinggi
badan menurut umur (TB/U)
|
Normal
|
≥ 2 SD
|
|
Pendek
(stunted)
|
< -2 SD
|
|
|
Berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB)
|
Gemuk
|
> + 2
SD
|
|
Normal
|
≥ -2 SD
sampai + 2 SD
|
|
|
Kurus
(wasted)
|
< -2 SD
sampai ≥ -3 SD
|
|
|
Kurus
sekali
|
< – 3
SD
|
Sumber :
Depkes RI, 2002.
Klasifikasi di atas berdasarkan parameter antropometri yang dibedakan atas:
1)
Berat Badan / Umur
Status gizi
ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap umur dalam bulan yang hasilnya
kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.
2)
Tinggi Badan / Umur
Status gizi
ini diukur sesuai dengan tinggi badan terhadap umur dalam bulan yang hasilnya
kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1.
3)
Berat Badan / Tinggi Badan
Status gizi
ini diukur sesuai dengan berat badan terhadap tinggi badan yang hasilnya
kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel 2.1
4)
Lingkar Lengan Atas / Umur
Lingkar
lengan atas (LILA) hanya dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu gizi kurang dan
gizi baik dengan batasan indeks sebesar 1,5 cm/tahun.
5)
Parameter Berat Badan / Tinggi Badan banyak digunakan karena memiliki
kelebihan:
1)
Tidak memerlukan data umur
2)
Dapat membedakan proporsi badan ( gemuk, normal, kurus)
6)
Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan / tinggi badan berdasarkan
kategori Z-Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
1)
Gizi Buruk ( Sangat Kurus) : <-3 SD
2)
Gizi Kurang
(Kurus)
:-3SDs/d<-2SD
3)
Gizi Baik
(Normal)
:-2SDs/d+2SD
4)
Gizi Lebih (Gemuk)
:>+2SD
2. Kebutuhan Energi dan
Aktivitas Fisik
Gerakan
tubuh saat melakukan olahraga dapat terjadi karena otot berkontraksi. Olahraga
aerobik dan anaerobik, keduanya memerlukan asupan energi. Namun, penetapan
kebutuhan energi secara tepat tidak sederhana dan sangat sulit. Perkembangan
ilmu pengetahuan sekarang hanya dapat menghitung kebutuhan energi berdasarkan
energi yang dikeluarkan.
Besarnya
kebutuhan energi tergantung dari energi yang digunakan setiap hari. Kebutuhan
energi dapat dihitung dengan memperhatikan beberapa komponen penggunaan energi.
Komponen-komponen tersebut yaitu basal metabolic rate (BMR), specific
dynamic action (SDA), aktifitas fisik dan faktor pertumbuhan.
a. Basal Metabolisme
Metabolisme basal adalah banyaknya energi yang
dipakai untuk aktifitas jaringan tubuh sewaktu istirahat jasmani dan rohani.
Energi tersebut dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi vital tubuh berupa
metabolisme makanan, sekresi enzim, sekresi hormon, maupun berupa denyut
jantung, bernafas, pemeliharaan tonus otot, dan pengaturan suhu tubuh.
Metabolisme basal ditentukan dalam keadaan individu
istirahat fisik dan mental yang sempurna. Pengukuran metabolisme basal
dilakukan dalam ruangan bersuhu nyaman setelah puasa 12 sampai 14 jam (keadaan
postabsorptive). Sebenarnya taraf metabolisme basal ini tidak benar-benar
basal. Taraf metabolisme pada waktu tidur ternyata lebih rendah dari pada taraf
metabolisme basal, oleh karena selama tidur otot-otot terelaksasi lebih
sempurna. Apa yang dimaksud basal disini ialah suatu kumpulan syarat standar
yang telah diterima dan diketahui secara luas.
Metabolisme basal dipengaruhi oleh berbagai faktor
yaitu jenis kelamin, usia, ukuran dan komposisi tubuh, faktor pertumbuhan.
Metabolisme basal juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu,
kelembaban, dan keadaan emosi atau stres.
Orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak
yang sedikit mempunyai Metabolisme basal lebih besar dibanding dengan orang
yang mempunyai berat badan yang besar tapi proporsi lemak yang besar. Demikian
pula, orang dengan berat badan yang besar dan proporsi lemak yang sedikit
mempunyai Metabolisme basal yang lebih besar dibanding dengan orang yang
mempunyai berat badan kecil dan proporsi lemak sedikit.
Metabolisme basal seorang laki-laki lebih tinggi
dibanding dengan wanita. Umur juga mempengaruhi metabolisme basal dimana umur
yang lebih muda mempunyai metabolisme basal lebih besar dibanding yang lebih
tua. Rasa gelisah dan ketegangan, misalnya saat bertanding menghasilkan
metabolisme basal 5% sampai 10% lebih besar. Hal ini terjadi karena sekresi
hormon epinefrin yang meningkat, demikian pula tonus otot meningkat.
Tabel 1. BMR untuk laki-laki
berdasarkan berat badan
|
Jenis
kelamin
|
Berat
badan
(kg)
|
10 – 18 th
|
Energi(kalori)
18 – 30 th
|
30 – 60 th
|
|
Laki-laki
|
55
|
1625
|
1514
|
1499
|
|
60
|
1713
|
1589
|
1556
|
|
|
65
|
1801
|
1664
|
1613
|
|
|
70
|
1889
|
1739
|
1670
|
|
|
75
|
1977
|
1814
|
1727
|
|
|
80
|
2065
|
1889
|
1785
|
|
|
85
|
2154
|
1964
|
1842
|
|
|
90
|
2242
|
2039
|
1899
|
Tabel 2. BMR untuk perempuan
berdasarkan berat badan
|
Jenis kelamin
|
Berat
badan
(kg)
|
10 – 18 th
|
Energi(kalori)
18 – 30 th
|
30 – 60 th
|
|
Perempuan
|
40
|
1224
|
1075
|
1167
|
|
45
|
1291
|
1149
|
1207
|
|
|
50
|
1357
|
1223
|
1248
|
|
|
55
|
1424
|
1296
|
1288
|
|
|
60
|
1491
|
1370
|
1329
|
|
|
65
|
1557
|
1444
|
1369
|
|
|
70
|
1624
|
1516
|
1410
|
|
|
75
|
1691
|
1592
|
1450
|
b. Specific Dynamic Action
Bila
seseorang dalam keadaan basal mengkonsumsi makanan maka akan terlihat
peningkatan produksi panas. Produksi panas yang meningkat dimulai satu jam
setelah pemasukan makanan, mencapai maksimum pada jam ketiga, dan dipertahankan
diatas taraf basal selama 6 jam atau lebih. Kenaikan produksi panas diatas
metabolisme basal yang disebabkan oleh makanan disebut specific dynamic action.
Specific
dynamic action adalah penggunaan energi sebagai akibat dari makanan itu
sendiri. Energi tersebut digunakan untuk mengolah makanan dalam tubuh, yaitu
pencernaan makanan, dan penyerapan zat gizi, serta transportasi zat gizi.
Specific
dynamic action dari tiap makanan atau lebih tepatnya zat gizi berbeda-beda.
Specific dynamic action untuk protein berbeda dengan karbohidrat, demikian pula
untuk lemak. Akan tetapi specific dynamic action dari campuran makanan besarnya
kira-kira 10% dari besarnya basal metabolisme.
c. Aktifitas fisik
Setiap
aktifitas fisik memerlukan energi untuk bergerak. Aktifitas fisik berupa aktifitas
rutin sehari-hari, misalnya membaca, pergi ke sekolah, bekerja sebagai
karyawati kantor. Besarnya energi yang digunakan tergantung dari jenis,
intensitas dan lamanya aktifitas fisik.
Tabel 3 :
Faktor aktifitas fisik (perkalian dengan BMR)
|
Tingkat aktifitas
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|
Istirahat
di tempat tidur
|
1,2
|
1,2
|
|
Kerja
sangat ringan
|
1,4
|
1,4
|
|
Kerja
ringan
|
1,5
|
1,5
|
|
Kerja
ringan – sedang
|
1,7
|
1,6
|
|
Kerja
sedang
|
1,8
|
1,7
|
|
Kerja
berat
|
2,1
|
1,8
|
|
Kerja
berat sekali
|
2,3
|
2,0
|
Setiap
aktifitas olahraga memerlukan energi untuk kontraksi otot. Olahraga dapat
berupa olahraga aerobik maupun olahraga anaerobik. Besarnya energi yang
digunakan tergantung dari jenis, intensitas dan lamanya aktifitas olahraga.
Tabel
4.Kebutuhan energi berdasarkan aktifitas olahraga (kal/mnt)
|
Aktifitas
Olahraga
|
Berat
|
Badan
|
(kg)
|
|||
|
50
|
60
|
70
|
80
|
90
|
||
|
Renang : –
gaya bebas
|
8
|
10
|
11
|
12
|
14
|
|
|
- gaya
punggung
|
9
|
10
|
12
|
13
|
15
|
|
|
- gaya
dada
|
8
|
10
|
11
|
13
|
15
|
|
Pertumbuhan
Anak dan
remaja mengalami pertumbuhan sehingga memerlukan penambahan energi. Energi
tambahan dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang baru dan jaringan tubuh.
Tabel 5.
Kebutuhan energi untuk pertumbuhan (kalori/hari)
|
Jenis
kelamin anak
|
Umur
|
Tambahan
energy
|
|
Anak
laki-laki dan
|
10 – 14
tahun
|
2
kalori/kg berat badan
|
|
Perempuan
|
15 tahun
|
1
kalori/kg berat badan
|
|
16 – 18
tahun
|
0,5
kalori/kg berat badan
|
- 1. Cara Menghitung Kebutuhan Energi
Kebutuhan
energi dapat dihitung berdasarkan komponen-komponen penggunaan energi.
Berdasarkan komponen-komponen tersebut, terdapat 6 langkah dalam menghitung
kebutuhan energi untuk setiap atlet.
Langkah 1
Tentukan status gizi atlet dengan menggunakan indeks
massa tubuh (IMT) dan presentase lemak tubuh. Indeks massa tubuh merupakan
pembagian berat badan dalam kg oleh tinggi badan dalam satuan meter
dikwadratkan. Sedangkan presentase lemak tubuh yaitu perbandingan antara lemak
tubuh dengan masa tubuh tanpa lemak. Pengukuran lemak tubuh dilakukan dengan
menggunakan alat skinfold caliper pada daerah trisep dan subskapula.
Langkah 2
Tentukan basal
metabolic rate (BMR) yang sesuai dengan jenis kelamin, umur dan berat badan.
Caranya menentukan BMR dengan melihat tabel 1 atau tabel 2.
Tambahkan
BMR dengan specific dynamic action (SDA) yang besarnya 10% BMR, BMR + SDA
(10% BMR)
Langkah 3
Aktifitas fisik setiap hari ditentukan tingkatnya.
Kemudian, hitung besarnya energi untuk aktifitas fisik tersebut (tanpa kegiatan
olahraga). Pilihlah tingkat aktifitas fisik yang sesuai, baik untuk perhitungan
aktifitas total maupun perhitungan aktifitas fisik yang terpisah dan jumlahkan.
Gunakan
Langkah 4
Kalikan
faktor aktifitas fisik dengan BMR yang telah ditambah SDA
Langkah 5
Tentukan penggunaan energi sesuai dengan latihan atau
pertandingan olahraga dengan menggunakan tabel 4. Kalikan jumlah jam
yang digunakan untuk latihan per minggu dengan besar energi yang dikeluarkan
untuk aktifitas olahraga. Total energi yang didapatkan dari perhitungan energi
dalam seminggu, kemudian dibagi dengan 7 untuk mendapatkan penggunaan energi
yang dikeluarkan per hari. Tambahkan besarnya penggunaan energi ini dengan
besarnya energi yang didapatkan dari perhitungan langkah 4.
Langkah 6
Apabila
atlet tersebut masih dalam usia pertumbuhan, maka tambahkan kebutuhan energi
sesuai dengan tabel 5
Tetap Mengontrol Berat Badan dan Lemak
Berolahraga atau beraktivitas fisik secara teratur adalah penting
bagi kesehatan. Selain membantu mencegah dan mengendalikan penyakit, olahraga
juga bermanfaat untuk menurunkan, menambah dan menjaga berat badan yang sehat.
Bila kelebihan berat badan, meningkatkan aktivitas
fisik akan menambah pembakaran kalori oleh tubuh. Pembakaran kalori melalui
kegiatan fisik ini, dikombinasikan dengan pengurangan asupan kalori melalui
diet, menciptakan “defisit kalori” yang menghasilkan penurunan berat badan.
Sebagian besar penurunan berat badan terjadi karena
pengurangan asupan kalori. Namun, bukti-bukti menunjukkan bahwa satu-satunya
cara untuk mempertahankan penurunan berat badan adalah dengan
beraktivitas fisik secara teratur. Diet rendah kalori saja tidak cukupkarena setelah terbiasa dengan kalori yang lebih sedikit,
tubuh akan meningkatkan efisiensi penggunaan kalori. Berat tubuh akan cenderung
bertambah kembali ke tingkat semula meskipun asupan kalori tetap. Untuk
mendapatkan dan mempertahankan berat badan yang sehat, setiap orang membutuhkan
aktivitas fisik yang berbeda-beda. Berikut adalah beberapa panduan sederhana
yang dapat diterapkan:
1. Untuk menjaga berat badan.
Bukti ilmiah yang kuat menunjukkan bahwa aktivitas
fisik dapat membantu Anda menjaga berat badan dari waktu ke waktu. Setiap
minggu, lakukanlah aktivitas fisik aerobik 150 menit dengan intensitas sedang
atau 75 menit aktivitas aerobik dengan intensitas kuat, atau campuran keduanya
yang setara. Ini hanyalah patokan umum. Jumlah pasti aktivitas fisik yang
diperlukan dapat bervariasi dari orang ke orang. Anda mungkin perlu melakukan
lebih atau kurang dari rekomendasi tersebut untuk menjaga berat badan
Anda.
2. Untuk menurunkan berat badan dan mempertahankannya.
Anda membutuhkan jumlah aktivitas fisik lebih banyak,
kecuali jika Anda juga menyesuaikan diet dan mengurangi kalori yang Anda makan
dan minum. Mendapatkan dan mempertahankan berat badan yang sehat membutuhkan
kombinasi aktivitas fisik yang teratur dan pola makan yang sehat.
|
Kalori
digunakan per 30 menit pada aktivitas umum
|
|
|
Aktivitas Fisik Sedang
|
Kalori /30 Menit
|
|
Hiking (naik gunung)
|
185
|
|
Berkebun
ringan
|
165
|
|
Menari
|
165
|
|
Golf
|
165
|
|
Bersepeda
(<15 km/jam)
|
145
|
|
Berjalan
(5 km/jam)
|
140
|
|
Angkat
beban ringan
|
110
|
|
Peregangan
|
90
|
|
Aktivitas Fisik Kuat
|
Kalori/30 menit
|
|
Berlari/jogging
(7-8 km/jam)
|
295
|
|
Bersepeda
(>15 km/jam)
|
295
|
|
Berenang
(putaran gaya bebas)
|
255
|
|
Senam
aerobik
|
240
|
|
Berjalan
cepat (6 km/jam)
|
230
|
|
Berkebun
berat (menebang pepohonan)
|
220
|
|
Angkat
beban intensif
|
220
|
|
Bola
basket (pertandingan)
|
220
|
|
Sumber:
diadaptasi dari Dietary Guidelines for Americans 2010.
|
|
Intensitas aktivitas fisik
Intensitas adalah tingkat usaha yang dibutuhkan oleh
seseorang untuk melakukan suatu kegiatan. Ada beberapa cara untuk menentukan
intensitas aktivitas fisik:
1. Intensitas relatif
Bila menggunakan intensitas relatif,memperhatikan
bagaimana aktivitas fisik memengaruhi detak jantung dan pernapasan.
Uji bicara adalah cara sederhana untuk mengukur
intensitas relatif. Sebagai aturan mudah, jika melakukan aktivitas
berintensitas sedang maka masih dapat berbicara, tetapi tidak dapat bernyanyi
pada saat kegiatan tersebut. Jika melakukan aktivitas berintensitas kuat,tidak
akan bisa mengucapkan lebih dari beberapa kata tanpa berhenti untuk menarik
napas.
2. Intensitas absolut sesuai kebutuhan energi
Intensitas absolut diukur berdasarkan jumlah energi
yang digunakan oleh tubuh per menit kegiatan. Tabel di samping adalah contoh
daftar aktivitas yang diklasifikasikan dalam intensitas sedang atau kuat
berdasarkan jumlah kalori yang digunakan oleh tubuh saat melakukan aktivitas.
Jumlah kalori dibakar tersebut adalah untuk orang dengan berat badan 70 kg.
Jika berat badan lebih atau kurang dari itu, maka kalori yang dibakar akan
lebih sedikit atau lebih banyak.
3. Intensitas menurut denyut jantung latihan
Cara lain untuk menentukan intensitas aktivitas fisik
adalah dengan mengukur denyut nadi atau detak jantung Anda selama aktivitas
fisik.
Untuk aktivitas fisik berintensitas sedang, denyut
jantung adalah sekitar 50%- 70% dari denyut jantung maksimum. Tingkat denyut
maksimum adalah berdasarkan usia . Perkiraan denyut jantung maksimum yang
berkaitan dengan usia dapat diperoleh dengan mengurangkan usia dari 220.
Misalnya, jika usia Anda adalah 35 tahun maka tingkat maksimum denyut jantung
Anda adalah 220-35 tahun = 185 denyut per menit (dpm). Dengan demikian,
aktivitas fisik berintensitas sedang untuk Anda adalah jika denyut jantung Anda
berada pada kisaran antara 92 s.d. 129 dpm (50%-70% dari 185 dpm) ketika
beraktivitas.
Untuk aktivitas fisik berintensitas kuat, target
denyut jantung adalah 70-85% dari denyut jantung maksimum, yaitu antara 130 dan
157 dpm.
|
Nilai
|
Paraf
|
|
|
|
thanks ya infonya !!!
BalasHapuswww.bisnistiket.co.id
Asik gan artikelnya .... sangat membantu
BalasHapussuwun gan
Hapuskomeng dong
BalasHapus