Tugas ke 4
Pembentukan Energi Saat Olahraga
Sel dituntut
untuk menghasilkan energi untuk mereka gunakan sendiri. Energi tersebut didapat
dari hasil ekstraksi energi yang terkandung di dalam ikatan-ikatan kimia pada
molekul makanan dengan cara mengombinasikan molekul makanan dengan oksigen di
dalam mitokondria sel. Molekul-molekul makanan yang digunakan adalah glukosa
dari metabolisme karbohidrat, asam amino dari metabolisme protein, dan asam
lemak dan gliserol dari metabolisme lemak.
Proses
ketika molekul makanan dikombinasikan dengan oksigen, yang kemudian
menghasilkan energi, disebut fosforilasi oksidatif. Proses ini memerlukan
beberapa enzim, yang bekerja secara berurutan di dalam mitokondria. Hasil
akhirnya adalah pembentukan molekul adenosin trifosfat (ATP) yang kaya energi.
ATP tersusun atas basa nitrogen adenosin, gula ribosa, dan tiga molekul fosfat
yang terikat menjadi satu. Dua fosfat terakhir diikat oleh suatu ikatan
berenergi tinggi, yang apabila diputus akan membebaskan sekitar 7 kkal per mol
energi yang dapat digunakan oleh sel.
Fosforilasi
Oksidatif Glukosa
Walaupun
fosforilasi oksidatif glukosa terjadi di mitokondria, namun harus ada langkah
awal dalam penanganan glukosa sebelum fosforilasi oksidatif terjadi. Langkah
ini disebut glikolisis dan berlangsung di sitoplasma di luar mitokondria.
Proses ini bersifat anaerob, yang berarti bahwa glikolisis terjadi tanpa
memerlukan oksigen. Selama glikolisis enzim-enzim sitoplasma mengubah glukosa
menjadi asam piruvat. Proses ini memerlukan dua molekul ATP dan menghasilkan
empat molekul ATP: hasil dari dua molekul. Pada saat terjadi kekurangan
oksigen, glikolisis berperan penting tetapi terbatas dalam menyuplai ATP ke sel.
Apabila
tersedia oksigen (aerob), maka molekul asam piruvat akan bergerak ke dalam
mitokondria, memasuki siklus asam sitrat atau siklus Krebs dan diubah oleh
enzim-enzim yang terdapat di sana menjadi suatu senyawa yang disebut asetil
koenzim A (asetil KoA). Proses ini menghasilkan tambahan dua molekul ATP.
Asetil KoA kemudian secara enzimatis diubah menjadi karbon dioksida dan hidrogen.
Karbon dioksida berdifusi keluar dari mitokondria dan dari sel, yang kemudian
diserap oleh darah yang menyuplai sel tersebut, dibawa ke paru paru dan
dikeluarkan dari tubuh. Atom hidrogen yang tertinggal di mitokondria memulai
proses fosforilasi oksidatif dan selama proses itu, mereka berikatan dengan
molekul-molekul oksigen melalui suatu rantai transpor elektron yang terdapat di
membran mitokondria. Hasil dari proses ini adalah pembentukan energi dalam
jumlah yang sangat besar, dalam bentuk 36 molekul ATP. Olch karena itu dari
metabolisme satu buah molekul glukosa, total dibentuk 38 molekul ATP (36 dari
fosforilasi oksidatif dan 2 dan glikolisis).
Fosforilasi
Oksidatif Asam Lemak Dan Gliserol
Sel juga
menggunakan asam lemak bebas dan gliserol dalam fosforilasi oksidatif untuk
menghasilkan ATP. Gliserol adalah sebuah karbohidrat dengan tiga rantai karbon,
yang mengalami glikolisis dalam sitoplasma dan masuk ke siklus Krebs sebagai
asetil KoA. Asam lemak bebas berdifusi langsung ke dalam mitokondria tempat
mereka diubah menjadi asetil KoA oleh berbagai enzim. Asetil KoA kemudian masuk
ke siklus Krebs. Penguraian satu molekul lemak menghasilkan 463 molekul ATP.
Lemak memiliki berat per mol lima kali lebih besar dibandingkan dengan glukosa.
Dengan demikian, per gramnya, metabolisme lemak menghasilkan ATP sekitar tiga
kali lebih banyak dibandingkan dengan metabolisme glukosa. Dengan demikian,
lemak adalah bentuk penyimpanan energi yang jauh lebih efisien dibandingkan
karbohidrat.
Fosforilasi
Oksidatif Asam Amino
Asam amino
masuk ke dalam mitokondria setelah molekul nitrogen dikeluarkan (deaminasi).
Setelah deaminasi, asam amino tersebut masuk ke dalam siklus Krebs di berbagai
titik. Sebagian, seperti alanin, masuk sebagai asam piruvat; diikuti oleh yang lain
yang masuk sebagai zat antara. Tempat asam-asam amino masuk ke siklus Krebs
menentukan berapa banyak atom hidrogen yang mereka
tambahkan ke
rantai transpor elektron dan dengan demikian berapa banyak molekul ATP yang
disintesis.
Glikolisis
Anaerob
Apabila
tidak tersedia oksigen, maka asam piruvat yang dihasilkan oleh glikolisis tidak
masuk ke siklus Krebs, tetapi berikatan dengan hidrogen dalam sitoplasma untuk
membentuk asam laktat. Dua molekul ATP yang terbentuk dari penguraian satu
molekul glukosa menjadi asam piruvat disediakan untuk menjaga sel tetap hidup.
Meski demikian, penggunaan glukosa ini menjadi sia-sia karena menyebabkan
hilangnya 36 molekul ATP yang seharusnya terbentuk apabila asam piruvat
memasuki siklus krebs. Proses ini hanya dapat berlangsung singkat sebelum
glukosa di deplesi.
Asam laktat
yang dihasilkan oleh glikolisis anaerob berdifusi keluar sel dan masuk ke dalam
peredaran darah. Hal ini dapat menyebabkan penurunan pH plasma (peningkatan
keasaman plasma). Dengan kembalinya oksigen, asam laktat akan diubah kembali
menjadi asam piruvat, terutama di hati, dan siklus Krebs akan berjalan kembali.
Pustaka
Buku Saku
Patofisiologi Corwin Oleh Elizabeth J. Corwin
Kebutuhan
energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang
tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran
lemak, serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara
ketiganya, simpanan protein bukanlah merupakan sumber energi yang langsung
dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan
karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang
dibutuhkan oleh tubuh. Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh
sebagai sumber energi untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2
faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan.
Pada
olahraga intensitas rendah (ą25 VO max) dengan waktu durasi yang panjang
seperti jalan kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan
kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam
hal produksi energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber
energi utama tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan
karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh tubuh untuk menyempurnakan pembakaran
lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah.
Pada
olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada
olahraga beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat
akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dan akan memberikan kontribusi
yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak dalam memproduksi energi
di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi utama
tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada
rentang 70-95% VO max.
Glikogen
merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang
berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Terbentuk dari mokekul glukosa yang
saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih kompleks, simpanan glikogen
memilik fungsi sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga
merupakan sumber energi bagi sistem pusat syaraf dan otak.
Di dalam
tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan
oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan otot,glikogen akan
memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam hati
glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati.
Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot
memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati.
Pada
jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat digunakan
secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu juga
dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk
memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai
peranan yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk
menjaga level glukosa darah.
Tugas
ke 5
Glikogen
Loading
Jumlah simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh
merupakan salah satu faktor penentu performa seorang atlet . Atlet yang
mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang besar dalam sehari-hari akan memilki
simpanan glikogen yang relatif lebih besar jika dibandingan dengan atlet yang
mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang kecil. Dengan simpanan glikogen yang
rendah, seorang atlet dalam menjalankan latihan/pertandingannya akan cepat merasa
lelah sehingga kemudian mengakibatkan terjadinya penurunan intensitas dan
performa olahraga. Hal ini berbeda dengan seorang atlet yang akan memiliki
performa dan ketahanan yang lebih baik apabila memiliki simpanan glikogen yang
besar.
Perlu juga untuk diketahui bahwa glikogen yang
terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam
otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk
glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Hal ini berbeda
dengan glikogen yang tersimpan di dalam hati yang dapat dikonversi menjadi
glukosa melalui proses glycogenolysis ketika terdapat bagian tubuh lain
yang membutuhkan. Walaupun jumlah karbohidrat yang dapat tersimpan sebagai
glikogen ini memilikiketerbatasan, namun kapasitas penyimpanannya terutama
kapasitas penyimpanan glikogen otot dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi
konsumsi lemak dan memperbesar konsumsi bahan pangan kaya akan karbarbohidrat
seperti roti, kentang, jagung,singkong atau juga pasta. Pengisian tubuh dengan
karbohidrat pada masa persiapan ini biasanya dikenal dengan istilah carbohydrate
loading dan akan memberikan manfaat terutama bagi atlet yang akan
berkompetisi dalam cabang olahraga endurance atau atlet yang akan
melakukan latihan/ pertandingan dengan durasi lebih dari 90 menit.
Salah satu faktor yang menjadi penyebab utama
penurunan kapasitas perfoma tubuh saat beraktivitas fisik seperti
berolahraga selain karena berkurangnya jumlah cairan dari dalam tubuh
juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah simpanan glukosa (energi) tubuh.
Glukosa merupakan nutrisi karbohidrat terpenting
karena mempunyai fungsi utama sebagai penyedia energi bagi
berbagai aktivitas fisik tubuh. Berfungsi sebagai ‘bahan bakar’ utama dalam
proses metabolisme energi, menjadikan simpanannya di dalam aliran darah
(blood glucose), otot dan hati (glikogen) menjadi salah satu faktor
penting yang menentukan performa tubuh saat melakukan olahraga intensitas
tinggi bertenaga, olahraga ketahanan (endurance) ataupun juga olahraga
kombinasi keduanya seperti sepakbola, tenis, bola basket ataupun bulutangkis.
Mengkonsumsi air putih yang telah ditambahkan
karbohidrat glukosa terbukti dapat membantu meningkatkan performa olahraga.1,2
Karena merupakan karbohidrat dengan bentuk molekul yang paling sederhana,
glukosa mudah diserap dan dapat cepat menyediakan energi bagi
sel-sel tubuh.
Di dalam tubuh konsumsi glukosa dapat
menghasilkan laju produksi energi yang besar hingga 1 gram per menit.3
Dan manfaat lebih akan didapatkan apabila glukosa ini dipadukan karbohidrat
jenis lain seperti sukrosa atau fruktosa, karena selain akan membantu
mempercepat proses penyerapan cairan ke dalam tubuh kombinasi antara
glukosa-sukrosa atau glukosa-fruktosa ini juga akan menghasilkan laju produksi
energi yang lebih besar di dalam tubuh hingga mencapai 1.3 gram per menit.
Karbohidrat Loading
Karbohidrat merupakan nutrisi sumber energi yang tidak
hanya berfungsi untuk mendukung aktivitas fisik seperti berolahraga namun
karbohidrat juga merupakan sumber energi utama bagi sitem pusat syaraf termasuk
otak. Di dalam tubuh, karbohidrat yang dikonsumsi oleh manusia dapat tersimpan
di dalam hati dan otot sebagai simpanan energi dalam bentuk glikogen. Total karbohidrat
yang dapat tersimpan di dalam tubuh orang dewasa kurang lebih sebesar 500 gr
atau mampu untuk menghasilkan energi sebesar 2000 kkal. Di dalam tubuh manusia,
sekitar 80% dari karbohidrat ini akan tersimpan sebagai glikogen di dalam otot,
18-22% akan tersimpan sebagai glikogen di dalam hati dan sisanya akan
bersirkulasi di dalam aliran darah dalam bentuk glukosa.
Pada saat berolahraga terutama olahraga dengan
intensitas moderat-tinggi, kebutuhan energi bagi tubuh dapat terpenuhi melalui
simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui simpanan glukosa yang
terdapat di dalam aliran darah (blood glucose) dimana ketersediaan
glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh glikogen hati agar
levelnya tetap berada pada keadaan normal. Proses pembakaran 1 gram karbohidrat
akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Walaupun nilai ini relatif lebih kecil
jika dibandingkan dengan energi hasil pembakaran lemak, namun proses
metabolisme energi karbohidrat akan mampu untuk menghasilkan ATP (molekul dasar
pembentuk energi) dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan laju yang
lebih cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak.
Tugas ke 6
Menghitung Kebutuhan Karbohidrat dan
Protein
Nama : Ukul Chamdani
Umur : 19 tahun
Berat : 53 kg
Tidak ada komentar:
Posting Komentar